Jumat, 18 Mei 2012

Manajemen Banjir Lahar Dingan Berbasis Kebencanaan

Indonesia .... seperti tak pernah lepas dari musibah bencana alam. Sebanyak 84% wilayah Indonesia memang rawan bencana alam, mulai banjir, longsor, gempa, tsunami, angin topan, letusan gunung berapi, hingga kebakaran hutan. Kerawanan tinggi terjadinya bencana sampai saat ini tidak dibarengi dengan antisipasi manajemen risiko terhadap berbagai kerugian yang timbul, baik harta benda maupun jiwa. karena sampai saat ini belum ada asuransi mikro bencana alam yang melindungi penduduk di zona rawan bencana. 


oleh karena potensi bencana seperti Letusan Gunung berapi, banjir lahar dingin, tanah longsor,angin puting beliung,wabah demam berdarah,dan lain-lain perlu diinventarisir dan dipetakan, sehingga apabila sewaktu-waktu bencana menimpa, korban bisa ditangani secara cepat dan tepat, dalam upaya meminimalisir dampak yang mungkin ditimbulkan, baik harta benda maupun jiwa manusia.



Berkaca pada pengalaman yang telah dan sedang kita hadapi bersama, kita diharapkan selalu meningkatkan kewaspadaan, mengingat pemahaman kita selama ini, hanya bahaya primer Letusan Gunung Gamalama berupa awan panas yang menjadi perhatian utama, sementara bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin masih kurang diperhatikan dan kurang kita antisipasi dampaknya.

Bahaya primer awan panas tentu tetap kita waspadai, mengingat kecepatan luncuran dan daya rusaknya amat besar, namun kenyataan dilapangan yang terjadi di kota ternate saat ini, menunjukkan bahwa banjir lahar dingin menjadi ancaman yang amat serius bagi keselamatan harta benda dan jiwa masyarakat.

Disamping itu durasi bencana banjir lahar dingin yang berlangsung dalam waktu yang sangat cepat sehingga tentunya akan memberikan dampak psikologis yang lebih lama dan lebih luas bagi masyarakat. sejatinya bencana tidak bisa kita cegah atau apalagi kita meramal atau memprediksi kapan terjadinya bencana tersebut. namun ada juga langkah-langkah yang bisa kita tempuh agar dapat mengurangi dampak dari bencana tersebut baik itu korban jiwa maupun harta benda.

Untuk itu perlu dilaksanakan pelatihan pencegahan dan kesiapsiagaan di kawasan rawan bencan Gunung Gamalama dan kepada masyarakat kota ternate. dan apabila memungkinkan dengan perkembangan teknologi dewasa ini pemerintah kota ternate dapat memasang alat atau sistem deteksi dan peringatan dini bencana alam khususnya banjir lahar dingin dari gunung Gamalama.

Dalam menghadapi situasi bencana, baik itu sebelum terjadinya bencana maupun pasca bencana, perlu adanya komitmen dari seluruh elemen bangsa baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, LSM serta seluruh masyarakat dengan tugas dan fungsinya masing-masing. dalam hal ini berup bantuan dana dari pemerintah pusat, rencana aksi dari pemerintah daerah, peran perguruan tinggi dan LSM dalam penelitian dan pemetaan daerah rawan bencana serta yang paling penting adalah keterlibatan masyarakat dalam hal menjaga kelestarian lingkungan.

Apabila kita berkaca dari negara jepang yang selalu mendapat musibah bencana gempa bumi dan tsunami, yang dilakukan oleh negara tersebut adalah pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab kepada rakyat dan masyarakat bekerja sama dengan pemerintah untuk lepas dari bencana. caranya adalah perguruan tinggi dan LSM melakukan analisa dan studi yang menyeluruh. namun yang harus diperhatikan adalah kesigapan dan tindakan setelah bencana adalah dua hal yang masih harus dimanajemen dengan baik.



0 komentar: